PAPUA BERSUARA DENGAN AIR MATA:
Tampilkan postingan dengan label EKONOMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EKONOMI. Tampilkan semua postingan

Harga Pinang Fluktuatif, Mama Ludia Tetap Berjualan Puluhan Tahun

Minggu, 27 September 2015 | 0 komentar

Mama Ludia, pedagang pinang di Pasar Yotefa
Jayapura,  – Mama Ludia (66), warga kampung Nafri terlihat sibuk merajut topi di pinggiran jalan tengah Pasar Induk Youtefa, distrik Abepura, Jayapura, Papua. Ia sedang menjaga meja yang berisi buah pinang yang biasa dikonsumsi masyarakat Papua. Hujan atau panas ia tetap berusaha mencari uang untuk kebutuhan keluarganya, juga membantu pembangunan gereja di kampung Nafri.
“Cari-cari harga sayur to, daripada tinggal di rumah bikin apa. Jadi sibuk dengan jualan begini sudah,” terang Mama Ludia saat Jubi mengajak ngobrol, Jumat (25/9/2015) kemarin.
Ia menuturkan, sejak sekitar tahun 1990an ia sudah berjualan pinang di pasar Youtefa. Meja ia letakan di perempatan bagian dalam pasar. Bersama belasan penjual pinang lainnya, dagangannya digelar untuk mencari uang guna kebutuhan rumah dan jajan cucu-cucunya. Terkadang ia mendapatkan untung apabila pinang sedang sedikit, dan bisa rugi saat pinang sedang banyak di pasaran.
Satu tumpuk pinang yang berisi sekitar 15-20 butir pinang dihargai Rp. 10 ribu sampai Rp 20 ribu tergantung bagus tidaknya pinangnya. Ada juga pinang ojek seharga dua ribu rupiah. Selain pinang, mama Ludia juga menjual Kapur untuk makan pinang seharga tiga ribu rupiah hingga Rp 10 ribu.
“Ada yang kita dapat lumayan untung, ada yang rugi juga. Namanya jual beli to. Begitulah cari hidup, untuk anak-anak sekolah, cucu-cucu dong pu uang jajan,” imbuhnya.
Pinang mama Ludia berasal dari rumahnya sendiri, beli dari tetanggaatau beli di pasar dari pengumpul pinang. Harganya satu karung (25 kilogram) sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Saat pinang sedang kosong di pasar, ia bisa mendapatkan untung sampai Rp 600 ribu, jika pinang sedang ‘banjir’ ia hanya mendapatkan untung sekitar Rp. 200 ribu. Sebagian keuntungan jualan pinang ia sumbangkan ke gereja Nafri yang sedang membangun ruang konsistori dan ruang serba guna.
“Pasar lagi sepi, sore baru ramai. Tapi sore tuh ramai dong cuma mondar-mandir saja,” terangnya.
Sejak pukul 07.00 pagi mama Ludia sudah berjualan di pasar sampai pukul 05.00 sore. Jika pasar sedang ramai ia membeli ke pengumpul, sebaliknya jika pasar sepi dan pengumpul menjual dengan harga terlalu tinggi ia tidak berjualan karena takut merugi.
Tong tau pasar to, jadi kalau pas tong pu harga tong beli kalau tidak tong tra beli,” kata Mama Ludia.
Sejak dulu, imbuhnya, ia hanya berjualan pinang saja. Tidak pernah ia berjualan dagangan lain seperti sayur karena tidak tahan. Ia memilih untuk berjualan daripada duduk-duduk saja di rumah. Saat panas dan hujan, ia berteduh di bawah payung besar bantuan Wali Kota Jayapura. Payungnya baru saja ia betulkan karena rusak hingga ia harus mengocek Rp 500 ribu.
“Kita harus berusaha, tinggal duduk saja tra mungkin mau datang sendiri to. Kita manusia semua sama harapannya hanya Tuhan. Segala sesuatu datang dari Tuhan, bukan kita manusia berusaha,” ujar Mama Ludia dengan yakin.(B.Y)
Continue Reading

Pendidikan di Kampung Menjadi Ukuran Kegagalan Otsus

Senin, 07 September 2015 | 0 komentar



Majalah Cenderawasi : Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tegah Papua se-Indonesia (AMPTPI) mengatakan kondisi pendidikan di kampung-kampung menjadi indikator bagaimana pemerintah tidak menggunakan dana Otonomi Khusus Papua untuk membangun Sumber Daya Manusia Papua.
“Ukuran dan standar, di kampung, bukan di kota. Kalau bicara kampung, dana pendidikan Otonomi Khusus itu tidak bermanfaat bagi orang Papua. Pendidikan di kampung undur jauh,”ungkap Sekretaris Jenderal AMPTPI, Yanuarius Lagowan di Waena, Kota Jayapura, Papua, Senin (07/09/2015).
Ia mencontohkan sejumlah lembaga pendidikan daerah yang dikunjungginya tidak berjalan, baik itu sekolah yayasan maupun sekolah negeri, atau Inpres. Sekolah-sekolah itu terlihat seakan mati dari aktivitas belajar mengajar lantaran tidak ada tenaga pegajar dan sarana pendukung lainnya.
“Ada beberapa sekolah yayasan dan Inpres itu ditutup. Di Wamena, beberapa di Paniai, Keerom, terutama di daerah perbatasan sehingga anggota TNI yang ambil alih mengajar. Kalau Wamena, kurang bagus itu di wilayah Elabukama. Jalan menuju ke sekolah-sekolah tidak diatur baik,” ungkapnya.
Penutupan sekolah itu dibenarkan Markus Mawel, pemuda dari kampung Waga-Waga, distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya. Mawel mengatakan salah satu SD di kampungnya, Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik pernah di tutup lantaran kekuarangan tenaga guru.
“Tahun 2001/2002 sempat ditutup karena tidak ada tenaga guru tetapi dibuka lagi tahun 2006. Sekarang sudah berjalan lagi. Sudah mantap,” ungkapnya melalui telepon genggam dari Wamena, Senin (07/09/2015).

Sumber :  http://tabloidjubi.com/
Continue Reading
 
Support : Majalah Cendrawasih | Mc Papuan | Bersuara dengan Air Mata
Copyright © 2014. Majalah Cendrawasih - By Mcpapuan

Proudly powered by Majalah Cendrawasih